ikhlas

“SEMUA Manusia akan hancur, kecuali mereka yang berilmu. Setiap orang yang berilmu akan hancur, kecuali orang-orang yang beramal. Setiap orang yang beramal akan hancur, kecuali orang-orang yang ikhlas. Setiap orang yang ihklas akan selalu menghadapi godaan Setan,” tutur Imam Al Ghazali.

Rasulullah SAW menceritakan ada seseorang yang hanya karena menyingkirkan sepucuk duri dari tengah jalan, maka kepadanya diganjar dengan rahmat oleh Allah SWT, sehingga meraih surga. Kok bisa begitu? Ternyata pada saat dia memungut duri itu, hatinya teramat ikhlas. Dia tidak ingin duri itu mencederai para pengguna jalan. Jadi jangan dianggap remeh satu amal yang nampak kecil yang bisa kita lakukan sepanjang niatnya ikhlas. Sebab siapa tahu karya kita seperti itu, insya Allah bisa disamakan seperti kisah si Pemungut Duri di atas. Bukankah Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya rahmat Allah, dekat kepada orang yang berbuat baik.” Disini Allah tidak menyebut besar kecilnya perbuatan baik itu. Misalnya memadamkan lampu neon di rumah kita yang seharusnya tidak perlu menyala di siang hari. Atau memungut puntung rokok dan memasukannya ke dalam bak sampah. Atau menggunakan kertas yang seharusnya sudah dibuang untuk dijadikan kertas konsep. Juga ketika membuang sisa makanan, niatkan untuk makanan hewan atau ikan.

Nabi Mulia pernah mengisahkan tentang seorang wanita pemaksiat, tapi bisa diampuni dosanya dan diberikan rahmat oleh-Nya, lantaran memberi minum seekor anjing yang tengah kehausan. Wanita itu sangat empatik dengan penderitaan sang anjing, sehingga hatinya tergugah untuk memberinya minum, walaupun ia harus turun ke dalam sumur untuk mencedok air dengan menggunakan sepatunya.

Ketika Khalid bin Walid RA sedang memimpin satu peperangan dan kemenangan sudah hampir diperoleh, tiba-tiba datang surat “pemecatan” dari Khalifah Umar bin Khatab RA kepadanya, tanpa menyebutkan alasannya. Panglima Peang harus diserahkan kepada salah seorang anak buahnya yang jauh lebih yunior darinya. Perintah itu diterima Khalid tanpa reserve. Kini ia menjadi prajurit biasa. Namun, semangat juangnya tidak berkurang sedikitpun. Usai peperangan, yang dimenangkan oleh kaum muslimin, salah seorang bertanya kepadanya: “Kenapa semangat juang Anda tidak kendor setelah jabatan Anda sebagai Panglima Perang diserahkan kepada anak buah Anda?” Dengan enteng Khalid bin Walid menjawab: “Saya berjuang bukan karena Umar, tapi karena Allah SWT”. Begitu ikhlasnya Khalid bin Walid.

Simak pula keikhlasan Ali bin Abi Thalib RA. Pada saat perang tanding satu lawan satu, Ali berhasil menempati posisi yang amat menentukan kemenangannya. Pedang lawan sudah terlepas dari tangannya. Ali sudah berhasil menindih tubuh musuhnya. Ditangannya telah memegang sebilah pisau yang teramat tajam. Tapi belum sempat Ali menghunjamkan pisau itu ke tubuh lawannya, si musyrik itu meludahi wajah Ali. Sebagai manusia biasa, tentu kita bisa merasakan emosi Ali. Wajar kalau kemarahannya kian memuncak. Tapi bagaimana sikap menantu Rasulullah itu? Pisau yang ada ditangannya malah ia campakan dan hal ini membuat musuhnya merasa aneh dan bertanya apa sebabnya. Ali bin Abi Thalib menjawab: “Aku khawatir, aku membunuh kamu karena emosi amarahku dan bukan karena jihad membela agama Allah”. Mendengar ungkapan Ali ini membuat lawannya mendapat hidayah dan mengucapkan dua kalimah syahadat. Masya Allah.

Keikhlasan dalam bekerja memang menjadi sorotan penting. Ulama terkenal Abi Qasimy al Qusyairi berkata: “Ikhlas adalah menjadikan tujuan taat satu-satunya hanyalah kepada Allah SWT. Dia ingin mendekatkan diri kepada Allah. Bukan untuk mendapat pujian”.

Thabrani RA meriwayatkan. Satu hari mereka sedang duduk-duduk bersama Nabi SAW. Tiba-tiba dari kejauhan ada seorang pemuda yang tubuhnya nampak amat perkasa bekerja dengan penuh semangat. Diantara sahabat berkata : “Alangkah kasihan orang itu, seandainya kemudaan dan kekuatannya itu digunakan untuk berjihad tentu lebih baik”. Mendengar ucapan sahabatnya ini, Rasulullah SAW bersabda : “Jangan berkata seperti itu. Sebab seseorang yang keluar rumah untuk bekerja mencari nafkah bagi anaknya yang masih kecil, maka ia berusaha di jalan Allah. Jika ia keluar rumah bekerja untuk dirinya sendiri agar tidak meminta-minta, itupun bekerja di jalan Allah. Tetapi apabila ia bekerja karena untuk pamer atau bermegah-megahan maka ia berada di jalan Syetan”.

Makna dari penegasan Rasul akhir zaman itu bahwa orang yang bekerja keras secara ihsan menghidupi keluarganya disamakan dengan orang yang berperang di jalan Allah. Artinya jika ia meninggal disaat menunaikan pekerjaannya, maka matinya mati syahid. Karena itu, “seorang Staf yang sedang menginput data, tiba-tiba meninggal, maka ia mati syahid. Seseorang yang sedang melakukan kontrak penjualan mati kecelakaan juga mati syahid. Termasuk pula Direktur yang sedang menandatangani keputusan penting terserang stroke lalu mati, ia mati syahid. Semuanya, disamakan dengan mereka yang pergi ke medan laga membela agama dengan satu syarat, ihsan”. Demikian antara lain tulis Budi Handrianto dalam bukunya Kebeningan Hati & Pikiran.

Dengan prinsip surah Al Ashr, seyogianya setiap muslim apa pun profesinya sepanjang ihsan, tujuannya bekerja Lillahi Ta’ala. Misalnya bila ia sebagai karyawan, maka ia terus berusaha untuk bekerja dengan baik tidak memperdulikan apakah pekerjaannya diawasi oleh atasan atau tidak. Sebab Nabi SAW bersabda : “Sebaik-baiknya pekerjaan adalah pekerjaan seorang pekerja yang melakukan pekerjaan dengan sebaik-baiknya (professional)”, (HR. Ahmad). Imam Ghazali memberikan tafsiran professional tersebut sebagai bentuk ketelitian, tanggung jawab, jauh dari unsur penipuan, kerja tidak seenaknya serta menepati hak-hak dan kepentingan pihak lain.

Lalu apa ciri karyawan yang tidak ikhlas itu? Ali bin Abi Thalib yang dikenal sebagai seorang ilmuan tersohor di zaman Rasulullah SAW itu memberikan empat cirinya. Kata beliau: “Malas jika tidak ada orang, giat jika di muka umum, bertambah amal jika dipuji dan menguranginya jika di cela”. Seorang bijak berkata: “Seharusnya seorang Karyawan itu mencontoh perilaku gembala kambing. Pengembala Kambing jika shalat siang hari ditengah-tengah kambingnya, sekali-kali tidak mengharap pujian dari kambing-kambingnya. Demikian pula seorang karyawan seharusnya tidak menghiraukan apakah dilihat atasan atau tidak”. Wallahualam*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s