kenapa aku harus menikah denganmu ? apakah kamu yang terbaik..?

menikahlah

 

Bismillkahirahmanirahim

sahabatku semua yag dirahmati Allah, judul yang membuat pertanyaan yang mendalam, kanapa aku harus menikahimu ? pertanyaan yang harus dijawab dengan sejujurnya, seberapa pentingkah pertanyaan itu sehingga harus dijawab? dan kenapa juga harus dijawab? siapa diantara kalian yang mau menjawabnya untukku ?

sahabatku, Membangun kehidupan rumah tangga yang harmonis memang menjadi dambaan. Namun tentu saja untuk mencapainya bukan persoalan mudah. Butuh kesiapan dalam banyak hal terutama dari sisi ilmu agama. Sesuatu yang mesti dipunyai seorang istri, terlebih sang suami.

Tidak salah jika ada yang mengatakan bahwa menikah berarti menjalani hidup baru. Karena dalam kehidupan pasca pernikahan memang dijumpai banyak hal yang sebelumnya tidak didapatkan saat melajang. Tentunya semua itu bisa dirasakan oleh mereka yang telah membangun mahligai rumah tangga.

“aku ingin bersamamu dalam naungan ilmu menggapai ridho Allah yang mulia”

sebuah kisah yang harus kita selami maknanya…..

Ini adalah kisah seorang pemuda tampan yang shalih dalam memilih calon istri, kisah ini tak bisa dipastikan fakta atau tidak, namun semoga pelajaran yang ada didalamnya dapat bermanfaat bagi kita semua, terutama Muslimah yang belum menikah semoga menjadi renungan.

Ia sangat tampan, taat (shalih), berpendidikan baik, orangtuanya menekannya untuk segera menikah.

Mereka, orangtuanya, telah memiliki banyak proposal yang datang, dan dia telah menolaknya semua. Orangtuanya berpikir, mungkin saja ada seseorang yang lain yang berada di pikirannya.

Namun setiap kali orangtuanya membawa seorang wanita ke rumah, pemuda itu selalu mengatakan “dia bukanlah orangnya!”

Pemuda itu menginginkan seorang gadis yang relijius dan mempraktekkan agamanya dengan baik (shalihah). Suatu malam, orangtuanya mengatur sebuah pertemuan untuknya, untuk bertemu dengan seorang gadis, yang relijius, dan mengamalkan agamanya. Pada malam itu, pemuda itu dan seorang gadis yang dibawa orangtuanya, dibiarkan untuk berbicara, dan saling menanyakan pertanyaan satu sama lainnya, seperti biasa.

Pemuda tampan itu, mengizinkan gadis itu untuk bertanya terlebih dahulu.

Gadis itu menanyakan banyak pertanyaan terhadap pemuda itu, dia menanyakan tentang kehidupan pemuda itu, pendidikannya, teman-temannya, keluarganya, kebiasaannya, hobinya, gaya hidupnya, apa yang ia sukai, masa lalunya, pengalamannya, bahkan ukuran sepatunya…

Si pemuda tampan menjawab semua pertanyaan gadis itu, tanpa melelahkan dan dengan sopan. Dengan tersenyum, gadis itu telah lebih dari satu jam, merasa bosan, karena ia sedari tadi yang bertanya-tanya, dan kemudian meminta pemuda itu, apakah ia ingin bertanya sesuatu padanya?

Pemuda itu mengatakan, baiklah, Saya hanya memiliki 3 pertanyaan. Gadis itu berpikir girang, baiklah hanya 3 pertanyaan, lemparkanlah.

Pemuda itu menanyakan pertanyaan pertama:

Pemuda: Siapakah yang paling kamu cintai di dunia ini, seseorang yang dicintai yang tidak ada yang akan pernah mengalahkannya?

Gadis: Ini adalah pertanyaan mudah, ibuku. (katanya sambil tersenyum)

Pertanyaan ke-2

Pemuda: Kamu bilang, kamu banyak membaca Al-Qur’an, bisakah kamu memberitahuku surat mana yang kamu ketahui artinya?

Gadis: (Mendegar itu wajah si Gadis memerah dan malu), aku belum tahu artinya sama sekali, tetapi aku berharap segera mengetahuinya insya Allah, aku hanya sedikit sibuk.

Pertanyaan ke-3

Pemuda: Saya telah dilamar untuk menikah, dengan gadis-gadis yang jauh lebih cantik daripada dirimu, Mengapa saya harus menikahimu?

Gadis: (Mendengar itu si Gadis marah, dia mengadu ke orangtuanya dengan marah), Aku tidak ingin menikahi pria ini, dia menghina kecantikan dan kepintaranku.

Dan akhirnya orangtua si pemuda sekali lagi tidak mencapai kesepakatan menikah. Kali ini orangtua si pemuda sangat marah, dan mengatakan “mengapa kamu membuat marah gadis itu, keluarganya sangat baik dan menyenangkan, dan mereka relijius seperti yang kamu inginkan. Mengapa kamu bertanya (seperti itu) kepada gadis itu? beritahu kami!”.

  1. Pemuda itu mengatakan, Pertama aku bertanya kepadanya, siapa yang paling kamu cintai? dia menjawab, ibunya. (Orangtuanya mengatakan, “apa yang salah dengan itu?”) pemuda itu menjawab, “Tidaklah dikatakan Muslim, hingga dia mencintai Allah dan RasulNya (shalallahu’alaihi wa sallam) melebihi siapapun di dunia ini”. Jika seorang wanita mencintai Allah dan Nabi (shalallahu’alaihi wa sallam) lebih dari siapapun, dia akan mencintaiku dan menghormatiku, dan tetap setia padaku, karena cinta itu, dan ketakutannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan kami akan berbagi cinta ini, karena cinta ini adalah yang lebih besar daripada nafsu untuk kecantikan.
  2. Pemuda itu berkata, kemudian aku bertanya, kamu banyak membaca Al-Qur’an, dapatkan kamu memberitahuku arti dari salah satu surat? dan dia mengatakan tidak, karena belum memiliki waktu. Maka aku pikir semua manusia itu mati, kecuali mereka yang memiliki ilmu. Dia telah hidup selama 20 tahun dan tidak menemukan waktu untuk mencari ilmu, mengapa Aku harus menikahi seorang wanita yang tidak mengetahui hak-hak dan kewajibannya, dan apa yang akan dia ajarkan kepada anak-anakku, kecuali bagaimana untuk menjadi lalai, karena wanita adalah madrasah (sekolah) dan guru terbaik. Dan seorang wanita yang tidak memiliki waktu untuk Allah, tidak akan memiliki waktu untuk suaminya.
  3. Pertanyaan ketiga yang aku tanyakan kepadanya, bahwa banyak gadis yang lebih cantik darinya, yang telah melamarku untuk menikah, mengapa Aku harus memilihmu? itulah mengapa dia mengadu, marah. (Orangtua si pemuda mengatakan bahwa itu adalah hal yang menyebalkan untuk dikatakan, mengapa kamu melakukan hal semacam itu, kita harus kembali meminta maaf). Si pemuda mengatakan bahwa Nabi (shalallahu’alaihi wa sallam) mengatakan “jangan marah, jangan marah, jangan marah”, ketika ditanya bagaimana untuk menjadi shalih, karena kemarahan adalah datangnya dari setan. Jika seorang wanita tidak dapat mengontrol kemarahannya dengan orang asing yang baru saja ia temui, apakah kalian pikir dia akan dapat mengontrol amarah terhadap suaminya??

sahabatku semua yang dirahmati Allah,

sekiranya cerita diatas bisa menjadi renungan bagi kita semua,

Rasulullah shalalahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya:

“Wanita dinikahi karena empat hal, [pertama] karena hartanya, nasabnya, kecantikannya, dan agamanya. Carilah yang agamanya baik, jika tidak maka kamu akan tersungkur fakir”. (HR. Bukhori no. 5090, Muslim no. 1466)

“Janganlah kalian menikahi wanita karena kecantikannya semata, boleh jadi kecantikannya itu akan membawa kehancuran. Dan janganlah kalian menikahi wanita karena kekayaan semata, boleh jadi kekayaannya itu akan menyebabkan kesombongan. Tetapi nikahilah wanita itu karena agamanya. Sesunggunya budak wanita yang hitam lagi cacat, tetapi taat beragama adalah lebih baik (daripada wanita kaya dan cantik tapi tidak beragama).”

Seorang laki-laki yang hendak menikah harus memilih wanita yang shalihah, demikian pula wanita harus memilih laki-laki yang shalih.

Menurut Al-Qur-an, wanita yang shalihah adalah:

فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ

“…Maka perempuan-perempuan yang shalihah adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (me-reka)…” [An-Nisaa’ : 34]

Lafazh قَانِتَاتٌ dijelaskan oleh Qatadah, artinya wanita yang taat kepada Allah dan taat kepada suaminya.[3]

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اَلدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ.

“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang shalihah.” [4]

“Sesungguhnya wanita seumpama tulang rusuk yang bengkok.
Bila kamu membiarkannya (bengkok) kamu memperoleh manfaatnya dan bila kamu berusaha meluruskannya maka kamu mematahkannya. “(HR. Ath-Thahawi)

Dalam hadits yang lain, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خَيْرُ النِّسَاءِ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا وَتُطِيْعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلاَ تُخَالِفُهُ فِيْ نَفْسِهَا وَلاَ مَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ.

“Sebaik-baik wanita adalah yang menyenangkan suami apabila ia melihatnya, mentaati apabila suami menyuruhnya, dan tidak menyelisihi atas diri dan hartanya dengan apa yang tidak disukai suaminya.” [5]

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

أَرْبَعٌ مِنَ السَّعَادَةِ: اَلْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، وَالْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ، وَالْجَارُ الصَّالِحُ، وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيْءُ، وَأَرْبَعٌ مِنَ الشَّقَاوَةِ: اَلْجَارُ السُّوْءُ، وَالْمَرْأَةُ السُّوْءُ، وَالْمَسْكَنُ الضَّيِّقُ، وَالْمَرْكَبُ السُّوْءُ.

“Empat hal yang merupakan kebahagiaan; isteri yang shalihah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang baik, dan kendaraan yang nyaman. Dan empat hal yang merupakan kesengsaraan; tetangga yang jahat, isteri yang buruk, tempat tinggal yang sempit, dan kendaraan yang jelek.” [6]

(HR Abu Daud dan Tirmidzi)

Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar Ruum : 21)

Berkata Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya (3/473) :

“Termasuk kesempurnaan rahmat Allah Subhaanahu wa Ta’ala kepada anak Adam: Dia jadikan istri-istri mereka dari jenis mereka sendiri. Dan ditumbuhkan antara mereka “mawaddah” yaitu cinta dan “rahmah” yaitu kasih sayang. Karena seorang laki-laki menahan seorang wanita untuk tetap menjadi istrinya bisa karena ia mencintai wanita tersebut atau karena ia iba dan kasihan terhadapnya, dimana ia telah mendapatkan anak dari wanita tersebut atau wanita itu butuh padanya untuk mendapatkan belanja atau karena kedekatan di antara keduanya dan alasan selain itu.”

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir

Abdullah bin Amr ibnul Ash rahimahullah mengkhabarkan bahwasanya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

Dunia ini adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasannya adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim)

Abu Hurairah Radiyallahu ‘anhu mengkhabarkan dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda :

Wanita itu dinikahi karena 4 perkara. Karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan karena agamanya. Pilihlah wanita yang memiliki agama, engkau akan bahagia.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sifat-sifat wanita yang sepantasnya engkau pilih sebagai istri sehingga ia bisa menjadi pengurus rumahmu dan pendidik anak-anakmu adalah wanita yang memiliki agama dan akhlak yang dapat membantumu untuk taat kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala. Yang mengingatkanmu ketika engkau lupa, menolongmu ketika engkau ingat, mengurus dan memperhatikanmu ketika engkau ada, menjaga hartamu dan kehormatannya ketika engkau tidak ada. Dia membuatmu ridha ketika engkau marah, mentaatimu ketika engkau perintah dan berbuat baik serta berbakti kepadamu.

Sesungguhnya wanita mulia yang menjaga kehormatannya tidak akan menyombongkan dirinya di hadapanmu dengan harta dan kecantikan yang ada padanya. Tidak pula dengan kedudukan dan nasab (keturunannya).

nah itulah kawan, yang harus digaris bawahi… cobalah lihat itu darinya….

sahabatku yang baik hatinya.. sebuah kisah nyata yg ditulis-Qilla Salafy di fiksiana-kompasiana

Ratna hanyalah seorang wanita biasa, wajahnya manis, sopan, berbudi pekerti luhur. Hanya saja nasib buruk selalu menimpanya, entah kenapa, hanya saja dalam hatinya selalu ada keyakinan bahwa semua kejadian yang menimpanya akan selalu ada hikmahnya. Bukankah Allah sayang pada orang-orang yang sabar?

H-7, Ratna disibukkan dengan persiapan pernikahannya, mulai dari menyebarkan undangan sampai mengurus segala keperluan resepsi pernikahan. Meskipun resepsinya dia rancang dengan sederhana, dia yakin bahwa pernikahannya akan meriah karena sahabat-sahabat terbaiknya berjanji akan membantu meramaikan acara resepsinya, gak tahulah seperti apa janji sahabat- sahabatnya itu, yang penting undangan untuk teman-teman, tetangga, dan sanak familinya sudah tersebar meski tidak banyak. Urusan catering dan tukang rias, kakaknya yang menangani. Dan Ratnapun mulai bisa bernafas lega.

H-2, Ratna dikejutkan dengan pemberitahuan dari kawan-kawannya bahwa nama mempelai laki-lakinya salah cetak. Dan barulah Ratna tersadar, saking sibuknya, dia tidak sempat memeriksa surat undangannya. “Aduuuuuh gimana nih Wiiiii, tolong aku dong!” rengek Ratna pada sahabatnya Dewi. Dewi hanya menggelengkan kepala, “Sudahlah Naaa, udah kepalang tanggung, nanti diumumkan saja pas waktunya akad nikah, toh undangan yang lain tak akan mempedulikan nama pasanganmu!” Ujar Dewi setengah menenangkan. “Ya sudahlah kalau begitu, aku hanya takut bahwa itu akan menjadi suatu pertanda buruk”, ucap Ratna pelan.

Tibalah hari H, pagi-pagi para undangan akad nikah pihak Ratna mulai berdatangan, kebanyakan yang datang adalah kerabat dan sahabat dekatnya. Seperti biasa akad nikah dimulai pukul 9.00, waktu sudah menunjukkan pukul 08.40, dan belum ada tanda-tanda rombongan mempelai prianya datang. Kakaknya Ratna telah berusaha menghubungi tapi tidak ada jawaban, hp calon suami Ratna tidak diaktifkan. Jam telah menunjukkan pukul 09.10, mulailah Ratna menangis, semua yang datang menjadi iba. Dewi sahabatnya berusaha menenangkannya.

“Tenanglah Naaaa, kakakmu sedang menyusul ke tempat Aryo, paling satu jam udah dapat kabar, tenang yaa?”

“Tuh kan Wi, apa aku bilang tentang firasat itu, bener kaan?”

“Iya, tapi itupun belum tentu benar, siapa tahu Aryo mengalami gangguan di jalan”

“Tapi kenapa HPnya  mesti dimatikan sih?”

“Sudahlah, positif thinking aja oke?”

Satu jam kemudian, Kakaknya Ratna pulang, wajahnya terlihat sedih dan bingung. Dan Ratna telah merasakan itu, maka histerislah dia.  Dewi bertanya pada Mas Randi kakaknya Ratna.

“Mas Randi, ada apa sih? Si Aryo kenapa?” tanya Dewi

“Ya Allah, kasihan adikku, Si Aryo brengsek pergi entah kemana, kata tetangganya semalam Aryo pergi dengan keluarganya”.

“Apa? loh kenapa mereka pergi tanpa memberi kabar?”

“Tak tahulah, namanya juga orang brengsek”, jawab Randi kesal

“Duuuh, gimana dong Mas? Kasihan si Ratna”

“Ya kita harus kasih tahu dia, betapapun pahitnya”

Dan memang, ketika Ratna diberitahu, Ratna langsung pingsan. Baru setelah 15 menit, Ratna mulai siuman. Lalu dengan lirih, Ratna mengatakan bahwa para undangan harus diberi tahu.  Sepertinya Ratna sudah bisa menguasai emosinya, meskipun sesekali air matanya tak kuasa dia bendung. Randi, keluar dari kamar pengantin dengan maksud mengumumkan pembatalan acara pernikahan adiknya itu. Baru sepatah kata randi mengumumkan, seorang pemuda berperawakan tegap, berkulit putih bersih, dan tampan pula, berdiri dengan tatapan penuh keyakinan.

“Maaf Mas Randi, perkenalkan saya Irawan sahabatnya Nino, bolehkah saya bicara?”. Nino adalah sahabatnya Randi. Dia menghadiri undangan Randi dalam acara akad nikah.

“Silakan”, jawab randi mempersilahkan.

“Begini Mas randi dan para hadirin, saya rasa untuk membatalkan pernikahan ini tidak mungkin, pernikahan ini masih bisa dilanjutkan, selama ada jalan keluarnya”

“Jalan keluar? maksudnya?” tanya Randi heran.

“Jalan keluarnya adalah mencari pengganti calaon mempelai laki-laki, kalau mempelai perempuan dan keluarga besar tidak keberatan saya bersedia menjadi penggantinya”, orang yang bernama Irawan itu berbicara dengan penuh keyakinan, lalu dia berkata lagi;

“Sejak tadi saya memperhatikan mempelai wanita, hati saya ikut merasakan sakit dan trenyuh, Ratna wanita yang baik  dan saya yakin ini sudah menjadi takdir dari Yang Maha Kuasa bahwa jodohku ada disini, terus terang dari semalam saya bisa merasakan itu, makanya saya maksa Nino untuk mengajak saya, sayapun tidak mengerti kenapa”

Semua para undangan tampak terkaget-kaget, entah apa yang ada dalam pikiran mereka, takjub, tidak menyangka akan ada kejadian seperti itu. Sebagian nampak bisik-bisik “Ih kayak di sinetron aja ya?” bisik mereka.

“Mas Randi, izinkan saya menikahi Ratna”, ujar Irawan lirih.

Randi kemudian masuk hendak membicarakannya dengan Ratna, akhirnya Ratna mengatakan siap. Dengan mata sembab, Ratna keluar kamar hendak menemui calon mempelai prianya.

Kemudian Irawan berkata lagi.

“Bagaimana Ratna? Maukah Kamu menjadi istriku?”

Ratna mengangguk pelan, dalam hati Ratna berkata “Ya Allah semoga jodohku ini adalah benar-benar orang yang baik, yang bisa menyayangiku dan mencintaiku apa adanya, meskipun hari ini aku baru mengenalnya, aku pasrahkan kepadamu Ya Allah!”

Semua tamu undangan merasa gembira, wajah para undangan terlihat berseri-seri “Alhamdulillaaaaah…” katanya serempak.

Mulailah akad nikah itu dengan lancar dengan mas kawin uang sebesar 1 juta rupiah, maklum hanya itu yang ada di dompet Irawan, untunglah penghulu mau menunggu.

Resepsi pernikahan berjalan mulus meskipun sebagian undangan banyak yang tidak menyadari apa yang terjadi selama akad nikah. Perkenalan kedua mempelai berlangsung di atas kursi pengantin. Semua orang bilang bahwa Ratna beruntung sekali mendapatkan Irawan, laki-laki tampan, baik hati, dan yang paling mengejutkan ternyata Irawan adalah pewaris perusahaan kenamaan di Jakarta. Neneknya telah lama mengharapkan Irawan segera mendapatkan istri,  Irawan dibesarkan oleh kakek dan neneknya, dan Irawan adalah satu-satunya pewaris hartanya, karena orang tua Irawan telah lama meninggal. Kerabat Ratna tentunya merasa lega, ternyata ada hikmahnya si Aryo brengsek kabur. Allah memang Maha Adil, tidak mungkin orang baik mendapatkan pasangan yang tidak baik, dan ternyata Allah mengirimkan takdir itu dengan cara yang unik. Cerita ini mengajarkan bahwa kita harus selalu sabar dalam menghadapi suatu masalah, maka Allah akan memberikan jalan keluarnya dengan mudah.

sungguh indah bukan sahabat, kesabaran adalah puncak tertinggi dari semua keindahan..

menikah denganmu
salah satu keputusan terbaik yang aku buat dalam hidupku
yang selalu aku syukuri setiap pagi aku membuka mata
menikah denganmu
membawaku dalam banyak petualangan hidup yang luarbiasa
berjalan dalam iman dengan mata penuh pengharapan
bergandengan tangan menyatukan hati menggapai mimpi-mimpi kita bersama

membangun ‘rumah’ dengan kehangatan dan kemesraan bukan dengan harta benda duniawi

sahabatku yang dirahmati Allah,

Pengaruh buruk materialisme telah banyak menimpa orang tua. Tidak sedikit orang tua, pada zaman sekarang ini, yang selalu menitikberatkan pada kriteria banyaknya harta, keseimbangan kedudukan, status sosial dan keturunan saja dalam memilih calon jodoh putera-puterinya. Masalah kufu’ (sederajat, sepadan) hanya diukur berdasarkan materi dan harta saja. Sementara pertimbangan agama tidak mendapat perhatian yang serius. Agama Islam sangat memperhatikan kafa-ah atau kesamaan, kesepadanan atau sederajat dalam hal per-nikahan. Dengan adanya kesamaan antara kedua suami isteri itu, maka usaha untuk mendirikan dan membina rumah tangga yang Islami -insya Allah- akan terwujud. Namun kafa-ah menurut Islam hanya diukur dengan kualitas iman dan taqwa serta akhlak seseorang, bukan diukur dengan status sosial, keturunan dan lain-lainnya. Allah ‘Azza wa Jalla memandang derajat seseorang sama, baik itu orang Arab maupun non Arab, miskin atau kaya. Tidak ada perbedaan derajat dari keduanya melainkan derajat taqwanya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” [Al-Hujuraat : 13]

Bagi mereka yang sekufu’, maka tidak ada halangan bagi keduanya untuk menikah satu sama lainnya. Wajib bagi para orang tua, pemuda dan pemudi yang masih berorientasi pada hal-hal yang sifatnya materialis dan mempertahankan adat istiadat untuk meninggalkannya dan kembali kepada Al-Qur-an dan Sunnah Nabi yang shahih, sesuai dengan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ ِلأَرْبَعٍِ: لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِيْنِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكَ.

“Seorang wanita dinikahi karena empat hal; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka hendaklah kamu pilih wanita yang taat agamanya (ke-Islamannya), niscaya kamu akan beruntung.” [2]

Hadits ini menjelaskan bahwa pada umumnya seseorang menikahi wanita karena empat hal ini. Dan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan untuk memilih yang kuat agamanya, yakni memilih yang shalihah karena wanita shalihah adalah sebaik-baik perhiasan dunia, agar selamat dunia dan akhirat.

Namun, apabila ada seorang laki-laki yang memilih wanita yang cantik, atau memiliki harta yang melimpah, atau karena sebab lainnya, tetapi kurang agamanya, maka bolehkah laki-laki tersebut menikahinya? Para ulama membolehkannya dan pernikahannya tetap sah.

Allah menjelaskan dalam firman-Nya:

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ ۖ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ

“Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula). Sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula)…” [An-Nuur : 26]

sangat disayangkan, kenyataan yang kita lihat banyak kepala keluarga yang melalaikan hal ini. Yang ada di benak mereka hanyalah bagaimana mencukupi kebutuhan materi keluarganya sehingga mereka tenggelam dalam perlombaan mengejar dunia, sementara kebutuhan spiritual tidak masuk dalam hitungan. Anak dan istri mereka hanya dijejali dengan harta dunia, bersenang-senang dengannya, namun bersamaan dengan itu mereka tidak mengerti tentang agama.

Paling tidak, bila seorang suami tidak bisa mengajari keluarganya, mungkin karena kesibukannya atau keterbatasan ilmunya, ia mencarikan pengajar agama untuk anak istrinya, atau mengajak istrinya ke majelis taklim, menyediakan buku-buku agama, kaset-kaset ceramah/ taklim sesuai dengan kemampuannya, dan menganjurkan keluarganya untuk membaca/ mendengarnya.

mendapatkan pengajaran agama termasuk salah satu hak istri yang seharusnya ditunaikan oleh suami dan termasuk hak seorang wanita yang harus ditunaikan walinya. Namun pada prakteknya, hak ini seringkali tidak terpenuhi sebagaimana mestinya. Sehingga tepat sekali ucapan Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi‘i rahimahullah yang membagi manusia menjadi tiga macam dalam mengurusi wanita:

Pertama: Mereka yang melepaskan wanita begitu saja sekehendaknya, membiarkannya bepergian jauh tanpa mahram, bercampur baur di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi, di tempat kerja seperti kantor dan di rumah sakit. Sehingga mengakibatkan rusaknya keadaan kaum muslimin.

Kedua: Mereka yang menyia-nyiakan wanita tanpa taklim (pengajaran), membiarkannya seperti binatang ternak, sehingga ia tidak tahu sedikit pun kewajiban yang Allah bebankan padanya. Wanita seperti ini akan menjatuhkan dirinya kepada fitnah dan penyelisihan terhadap perintah-perintah Allah Subhaanahu wa Ta’aala, bahkan akan merusak keluarganya.

Ketiga: Mereka yang memberikan pengajaran agama kepada wanita sesuai dengan kandungan Al Qur’an dan As Sunnah, karena melaksanakan perintah Allah Subhaanahu wa Ta’aala :

Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri-diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.? (At- Tahrim: 6)

Lihatlah keluarga Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani rahimahullah. Beliau demikian bersemangat menyebarkan ilmu di tengah keluarganya dan kerabatnya sebagaimana semangatnya menyampaikan ilmu kepada orang lain. Kesibukan beliau dalam dakwah di luar rumah dan dalam menulis ilmu tidaklah melalaikan beliau untuk memberi taklim kepada keluarganya. Dari hasil pendidikan ini lahirlah dari keluarga beliau orang-orang yang terkenal dalam ilmu khususnya ilmu hadits, seperti: saudara perempuannya Sittir Rakb bintu ‘Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Hajar Al-’Asqalani, istrinya Uns bintu Al-Qadhi Karimuddin Abdul Karim bin ‘Abdil ‘Aziz, putrinya Zain Khatun, Farhah, Fathimah, ‘Aliyah, dan Rabi`ah. (Inayatun Nisa bil Haditsin Nabawi, hal. 126-127)

Lihat pula bagaimana Sa’id Ibnul Musayyab rahimahullah membesarkan dan mengasuh putrinya dalam buaian ilmu hingga ketika menikah suaminya mengatakan ia mendapati istrinya adalah orang yang paling hapal dengan kitabullah, paling mengilmuinya, dan paling tahu tentang hak suami. (Al-Hilyah, 2/167-168, As-Siyar, 4/233-234)

Demikian pula kisah keilmuan putri Al-Imam Malik rahimahullah. Dengan bimbingan ayahnya, ia dapat menghapal Al-Muwaththa’ karya sang Imam. Bila ada murid Al-Imam Malik membacakan Al-Muwaththa’ di hadapan beliau, putrinya berdiri di belakang pintu mendengarkan bacaan tersebut. Hingga ketika ada kekeliruan dalam bacaan ia memberi isyarat kepada ayahnya dengan mengetuk pintu. Maka ayahnya (Al-Imam Malik) pun berkata kepada si pembaca: “Ulangi bacaanmu karena ada kekeliruan?. (Inayatun Nisa’, hal. 121)

Dan karena Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya/ dimintai tanggung jawab tentang apa yang dipimpinnya.? (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 893 dan Muslim no. 1829)
(Nashihati lin Nisa’, Ummu ‘Abdillah Al-Wadi`iyyah, hal. 7-8)

“bersamamu dalam naungan ilmu yang indah”

Sewangi Bunga mawar yg mekar di pagi hari…
Sehangat sinar Mentari pukul 05.30…
Sebening Mata air di pegunungan Himalaya…
Seputih Salju di Kutub Utara…
Semerdu Kicauan burung Pipit ketika bernyanyi..
Selembut dan Sesuci bayi ketika lahir…
Setajam Angin yang menghembus dimalam hari…
Semanis Senyum teman-temanku kepadaku…
Serumit Pembuatan Candi Borobudur…
Seagung orang yang mempunyai Cinta Suci kepada lawan jenisnya…
Setulus Cinta orangtua kepada anak-anaknya…
Semulia orang yang Berjihad…
Seindah Surga Firdaus…
ingin bertemu dengan manusia yang mempunyai sifat spt itu….
yang wajahnya teduh oleh cahaya wudhunya,
suaranya lembut karena banyak istiqfarnnya..
matanya berbinar-binar menatap masa depanya…
siapakah DIA ? semoga ia adalah kamu sahabat, para sahabat terbaik yang dirahmati Allah..

Ya Allah aku tunduk dan bertekuk lutut kepada-Mu… Aku mengakui Kekuasaan-Mu di Ufuk barat dan Ufuk timur….!!!, teramat mudah bagi-Mu untuk menghancurkan diriku…, ku serahkan jiwa dan raga ini kepada-Mu Allah….!!! tanpa perlawanan….

Yaa Allah, Yaa Rahmaan, Yaa Rahiim pemilik hidup dan matiku, sesungguhnya aku malu meminta padaMu karena sudah terlalu banyak pinta yang aku panjatkan kepadaMu… Namun jika aku boleh meminta, aku mohon padaMu Yaa Allah, panjangkanlah usiaku, berikanlah aku kesempatan untuk bisa menjadi dewasa, untuk bisa membahagiakan orang-orang yang ku cintai, untuk bisa melihat mereka tersenyum, untuk bisa melihat rona bahagia di wajah mereka, dan untuk bisa menjadi teladan bagi mereka…

Ya Allah, jika Engkau takdirkan panjang usiaku dan panjangnya usiaku adalah yang terbaik untukku, tetapkanlah aku agar senantiasa berada di jalan lurusMu agar aku dapat menggapai keridhoanMu dengan berpegang teguh pada syari‘atmu, istiqomah menjalankan perintahMu, menjauhi segala laranganMu, tunduk pada ketentuanMu dan ikhlas pada setiap ketetapan dariMu…

Yaa Allah, jadikanlah kehidupanku sebaik-baiknya kehidupan agar tidak sia-sia sisa umurku berlalu…

Yaa Allah, jika telah habis waktu yang Kau berikan untukku, jadikanlah akhir hidupku akhir yang baik agar darinya aku dapat menuju kepadaMu dan terobati segala kerinduanku untuk berjumpa denganMu dan RasulMu…
Aamiin yaa Rabbal Alaamiin..

ya Allah, pertemukanlah kami dengan seseorang yang hatinya selalu bersandar kepadamu, yang mencintaiMu melebihi apapun, yang baik akhlaknya, dan cinta pada keluarganya..

namun sebelum kau pertemukan kami padanya, maka tuntunlah kami ya ALLAH, agar bisa menjadi pribadi yang lebih baik, sebelum kelak memimpin pribadi yang baik, ajarilah kami cara memantaskan diri untuk seseorang yang mulia dihadapanmu, ya Allah hanya kepadamulah kami memohon dan kepadamulah kami berserah diri,

tuntunlah kami selalu ya Allah untuk kebaikan dunia dan akherat kami

“bersamamu dalam naungan ilmu”

temonsoejadi.com/2012/10/28/kenapa-aku-harus-menikah-denganmu

One thought on “kenapa aku harus menikah denganmu ? apakah kamu yang terbaik..?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s