penantian 1

 

Hidup ku kan segera berlayar 
menerjang ombak dan badai, 
memebelahnya lautan, 
menembus bayang-banyang.
Waspada arah melintang, 
karang-karang tajam menjadi misteri dalam kehidupan

Bismillahirrahmanirrahiim…

Saat layar akan dibentangkan, dan perahu siap berlayar…maka bersiap-siaplah untuk mengarungi samudera kehidupan. Akan ada karang tajam menerjang, serta ombak yang siap melahap…Sahabat begitulah sebuah hidup setelah pernikahan, akan ada nahkoda yang memimpin mengarungi kehidupan. Jika nahkoda pandai dalam mengemudi serta hatinya senantiasa pasrah kepada Allah maka ketentraman dan merasa aman akan terasa pada seluruh penumpangnya saat mengarungi samudera kehidupan.

Tentunya sebelum berlayar ada hal yang perlu dipersiapkan, inilah hal yang terpenting sebelum mengarungi kehidupan setelah pernikahan, sebut saja sebagai proses menuju pernikahan dan masa penantian menuju pernikahan…esensinya untuk membuat perahu yang kuat dan kokoh maka harus dibuat dengan bahan-bahan yang berkualitas dan prosedur pembuatan yang benar. Selama proses inilah setan berusaha memanfaatkan momentum-nya untuk menggoda dan merusak sehingga bergeser jauh dari makna dan tujuan seharusnya, yakni sebagai sarana untuk Ibadah kepada Allah sehingga melahirkan Sakinah , Mawadah dan Rahmah.

Salah satu pandangan islam menurut Mohamad Faudzil Adhim dalam bukunya yang berjudul kado pernikahan untuk istri ku, beliau menjaelaskan bahwa “salah satu pandangan islam tentang pernikahan adalah sederhana dalam proses dan sederhana dalam pelaksanaan. Hendaknya memperhatikan kondisi hati ketika akan melaksanakan pernikahan. Sebab, disinilah setan berusaha untuk menyimpangkan tujuan. Islam sangat menanjurkan untuk menyegerakan menikah. Sehingga setan berusaha untuk merebut masa sebelum menikah, menjadikan masa yang rawan. Masa ini bisa menyesatkan manusia jika tidak berhati-hati. Boleh jadi kelak malah mendapatkan pernikahan yang tidak sebagaimana harapan, jauh dari keberkahan…Na’udzubillahi min dzalik. Semoga Allah menjauhkan kita dari hal-hal yang demikian.

Ada dua hal yang perlu dipehatikan saat proses berlangsung hingga masa Perjanjian kuat (Mitsaqan Ghaliza) dilangsungkan. Pertama menyangkut prasangka kepada Allah. Kedua prasangka dan presepsi terhadap pernikahan dan calon pasangan hidup.

  1. Prasangka kepada Allah

Pernikahan adalah amanah dari Allah bagi manusia yang beriman kepada-Nya . Pernikahan adalah ketundukan kita kepada-Nya, sekalipun Allah memberikan persaan-persasaan kecenderungan kepada manusia, justru Allahlah yang memberikan perasaan dan dorongan itu kepada manusia.

Masya Allah, manusia sering kali berkeluh-kesah karena dangkalanya ilmu dan pendeknya jaungkauan terhadap rahmat Allah.

Seperti saat membutuhkan gerimis untuk mendinginkan bumi , hatinya malah mengeluh dan kadang cepat memberikan penilaian yang salah ketika Allah mengirimkan mendung. Padahal, mendung yang tebal itu membawa muatan air yang melimpah. Ketika ia tidak melihat mendung dan hanya merasakan teriknya matahari, ia pun lupa bahwa matahari adalah rahmat dari Allah. Padahalteriknya matahari akan berdampak terhadap penguapan sehingga terbentuk awan yang membawa muatan air yang melimpah dan terjadilah hujan. Senantiasalah berprasangka baik terhadap Allah saat berlangsungnya masa penantian…”Aku menuruti prasangka hamba-Ku kepada-Ku (HR.Bukhari & Muslim)”. Maka bersabarlah dengan penuh keikhlasan dan senantiasa berprasangka baiklah kepada Allah,karena Allah senantias memberikan yang terbaik untuk hamba-Nya.

  1. Prasangkan dan Presepsi terhadap pernikahan dan Calon pasangan hidup

Proses pernikahan ada yang berlangsung cepat dan adapula yang membutuhkan waktu yang lama. …maka berdo’alah…

Dengangan menyebut nama Allah atas jiwaku, hartaku, dan agamaku. Ya Allah, jadikanlah aku ridha dengan apa yang Engkau tetapkan dan jadikanlah barakah apa yang telah Engkau takdirkan. Sehingga tak ingin aku menyegerakan apa yang Engkau tunda, dan menunda apa yang Engkau segerakan”.

Menikah merupakan perkara yang dianjurkan untuk disegerakan. Jika tidak ada hal yang merintangi, mempercepatnya adalah lebih baik. Mempercepat pernikahan termasuk salah satu kebaikan dan lebih dekat kepada kemaslahatan, barakah dan ridho Allah. Apa-apa yang menghalangi langkah untuk menyegerakan akan dimudahkan oleh Allah karena Allah tidak pernah zalim terhadap hamba-Nya.

Laa Illaaha illa Anta, subhanaka innii kuntu minazhzhalimin. Rabbana Zhalamna anfusana waillam taghfirlana lanaa kuunanna minal khosirin.

Pada masa penantian yang menjadi rawan adalah masalah lisan sebab masalah memperlakukan lisan ini mempengaruhi keseluruhan masalah lain termasuk hubungan keharmonisan setelah menikah. Ada 2 hal yang perlu diperhatikan dalam memperlakukan lisan selam proses berlangsung…pertama manjaga lidah dalam mengucapkan kata-kata kepada calon, kedua menjaga presepsi kita terhadap apa yang kita dengar dari lisan orang lain tentang calon pasangan.

Suatu ketika Imam Ahmad bin Hmbal ditanya mengenai Hadist “Jika engkau mendengar sesuatu yang mungkin diucapkan oleh saudaramu, berikan interpretasi yang terbaik sampai engkau tidak dapat menemukan alasan untuk melakukannya” . mengenai hal ini beliau menjelaskan bahwa esensinya adalah untuk mentabayunkan (meminta penjelasan) adalah bentuk lain untuk menginterpretasikan apa yang diucapkan. Sehingga diajurkan untuk memusawarhkan apa yang dimaksud dari ucapan sehingga tidak terjadi presepsi yang salah. Disinilah Tabayyun (menegakan kebenaran informasi diperlukan) sangat diperlukan . Hindarilah berprilaku imma’ah yaitu memuji atau mencela orang lain tanpa ada alasan , tetapi semata-mata karena dia melihat orang lain melakukan hal itu.

Sekian catatan saya seputar masa penantian. Semoga pertolongan Allah memudahkan dalam proses menuju pernikahan yang barokah dan diridhoi Allah. Jika kesulitan dalam proses semoga melahirkan loyalitas kesetiaan, kedalaman cinta, dan kelurusan niat setelah melaksanakan akad nikah. Allahumma Amin…Insya Allah Rahmat Allah datang dalam berbagai bentuk. Maka berprasangkalah baik kepada Allah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s