akhwat : aku gag suka sama dia

1653374_10153246941592785_4763636055406628703_n
akhwat : aku gag suka sama dia

“Aku gak suka sama dia, walau kau bilang dia orang yang shaleh. Berat rasanya kalau harus berproses sama dia.” keluh seorang teman saat ditawari seorang ikhwan sholeh untuk jadi calon suaminya.

Sulit memang kalau sudah alasannya tak ada rasa suka dalam hati, hingga seseorang ditolaknya di saat mengajukan diri untuk berproses menuju pernikahan.

‘Rasa suka’ entah mengapa kata itu menjadi sulit bagi sebagian orang hingga mejadi sebab tertolaknya lamaran lelaki sholeh atas seorang lajangwati.

Memang tidak ada larangan bahwa seseorang baru akan menikah bila mana ada rasa cinta sebelumnya. Itu sah-sah saja

Marilah sejenak menyimak kisah nyata tentang yang sudah-sudah. Benarkan tidak adanya rasa cinta sebelum menikah itu bisa menghalangi barakahnya sebuah pernikahan?

Terkisah. Dulu saya punya teman saat kuliah. Oleh orang tuanya dijodohkan dengan seorang lelaki sholeh. Entah mengapa setelah acara ta’aruf selesai ternyata tak ada perasaan suka sedikit pun dalam hati temanku ini. Malah saat aku tanya-tanya bagaimana tentang si calon yang di ajukan orang ruanya, dia mejawab, “Hiii jangan tanya-tanya dia. Mendengar namanya aku jadi semakin benci, apalagi saat melihat wajahnya aku semakin gak suka sama dia” Begitu selalu jawaban dari temaku saat itu.

Sayang, walau dalam hati tak ada rasa suka terhadap si calon, temanku pun tak punya pilihan. Jawabannya harus IYA. Sebab menurut temanku itu ibunya keras dan tak bisa ditentang. Jika pun menolak maka khawatir penyakit stroke ibunya kambuh. Belum lagi darah tinggi dan kencing manis yang bisa-bisa kumat bila emosi si ibu tak stabil.

Menikah! Iya akhirnya temanku menikah juga. Demi menuruti dan menyenangkan ibu bapaknya. bismillah akhirnya temanku menikah juga.

Awal-awal pernikahan sering aku penasaran. Maka sering aku tanyakan, “Gimana sudah jatuh cinta belum sama suamimu?” dan jawabannya selalu belum, belum dan belum. Katanya sulit sekali menumbuhkan rasa cinta.

Sebulan, dua bulan dan akhirnya berganti tahun. Setahun lebih temanku sudah menjalani pernikahannya bersama suaminya.

Saya masih ingat waktu itu saya sedang setrika baju. Saya dipanggil untuk menayakan sesuatu. “Fat, cara menghitung TP itu gimana?”

“WHAT! Kamu tanya cara menghitung TP? Tapsiran persalinan? Katanya tidak cinta?” kataku setengah kaget saking gembiranya saat itu.

“Hehehehe iya. Beberapa bulan ini aku sudah bisa merasakan perasaan cinta seperti layaknya istri terhadap suami. Suamiku itu terlalu baik dan sabar bahkan aku sering dibuatnya malu. Ternyata ilmu agamanya suamiku lebih baik dari pada aku. Manalah bisa aku benci lama-lama sama dia. Ini buktinya aku sudah DUNG” begitu jelas temanku kurang lebih nya dulu.

Akhirnya dia jatuh cinta juga bak seorang romeo dan juliet.

Lain temanku di kampus dulu, lain lagi cerita teman kantorku sekarang. Temanku mengaku saat menikah dengan suaminya dulu juga tanpa ada perasaan cinta sama sekali. Dia menerima lamaran suaminya lantaran kasihan karena saat itu suaminya itu sangat gigih untuk mendapatkanya. Berkali-berkali ditolak, tapi dia tak gentar untuk terus maju PDKT dengan orang tua temanku ini. Akhirnya orang tua temanku mendukung rencana si lelaki ini untuk menikahi anaknya, yaitu temanku.

Pikir temanku saat itu, “umurku sudah segini, orang tuaku sudah setuju. Lalu aku harus nunggu apa lagi?”

Maka dengan berati hati juga temanku -bismillah- akhirnya menikah.

Setahun, dua tahun, tiga tahun sampai empat tahun tetap tak ada rasa cinta dalam hatinya. Bahkan temanku mengaku selama empat tahun menikah tak pernah sekalipun meminta maaf pada suaminya walau dirinya lah yang salah.

Suaminya lebih banyak mengalah atas dirinya. Bahkan temanku menyadari dengan sesadar-sadarnya bahwa dirinya egois sekali terhadap suaminya padahal sama orang lain tidaklah begitu.

Menginjak tahun kelima pernikahan akhirnya luluh juga hati temanku ini. Semua tidak lai karena kebaikan dan kesabaran suaminya itu. Bagai batu yang keras akhirnya hancur juga setelah ditetesi terus menerus dengan air yang menyejukkan.

Akhirnya dia merasa bersalah juga atas perlakuan dirinya pada suaminya. Suaminya begitu baik tapi karena egois hatinya jadi tertutup dan malah dia membenci suaminya sendiri. Maka sejak tahun kelima itu, mulailah dia bisa jatuh cinta dari hati sampai saat ini.

Dari dua cerita di atas ternyata ada satu kesamaan yang menjebatani jauhnya dinding hati yaitu kebaikan dan kesabaran. Dan dua hal itu akan tentu akan di dapat dari seseorang yang sholeh.

Bersebab keshalehan maka dia akan tahu bagaimana memperlakukan istrinya dengan baik. Maka tak salah bila ada istilah, “sungguh tak akan sulit mencintai orang yang sholeh”

Maka engkau wahai para bujangwati yang men-Tuhankan “rasa cinta” untuk bisa menerima lamaran seseorang, mungkin cerita di atas bisa menjadi bahan pertimbangan.

Wahai bujang adakalanya keshalehan seseorang itu sudah cukup agar menjadi sebab barakahnya sebuah pernikahan. Maka terimalah lamarannya.

Semoga bermanfaat!

(Bintang Polaris)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s